Apakah itu Luminer

Jan 30, 2018
admin

PENGETAHUAN TENTANG ‘ LUMINER ‘

I. Pendahuluan
Sebelum kita membahas tentang luminer, kita akan lihat dulu tentang definisi luminer itu sendiri
Luminer menurut PUIL :2011 + Amandemen 1.(2011) edisi 2016 SNI Wajib 0225:2011 Persyaratan Umum Instalasi Listrik( PUIL: 2011)
Apparatus yang mendistribusikan, memfilter, atau mentransformasikan cahaya yang dipancarkan dari satu atau lebih lampu dan yang mencakup, kecuali lampu itu sendiri, semua bagian yang diperlukan untuk memagunkan dan memproteksi lampu dan jika diperlukan, mencakup juga pelengkap sirkit bersama sama sarana untuk menghubungkan nya ke suplai listrik.
Luminer menurut SNI :
luminer adalah: sebuah unit yang menyediakan tempat untuk lampu sebagai sumber cahaya bersama sama bagian yang dirancang untuk mendistribusikan cahaya, untuk posisi melindungi lampu, dan untuk menghubungkan lampu ke catu daya.
Luminer merupakan unit pencahayaan lengkap yang terdiri dari komponen-komponen:
• Satu atau lebih lampu
• Bagian yang dirancang untuk mendistribusikan cahaya
• Socket untuk menempatkan dan melindungi lampu serta untuk menghubungkan lampu ke sumber daya
• Komponen mekanik yang dibutuhkan untuk menunjang luminer.
Untuk itu penulis tertarik untuk menjelaskan tentang luminer, yang semakin hari semakin banyak digunakan untuk penerangan di berbagai tempat.
II. Definisi
A. Definisi terkait Pencahayaan.
Banyak sekali definisi atau istilah-istilah yang digunakan terkait dengan pencahayaan, antara lain:
• flux cahaya satuannya lumen (lm); flux dipancarkan di dalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela
• lux : merupakan satuan metric ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata2 yang dicapai adalah rata2 tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi
• faktor pemanfaatan (UF): merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan
• intensitas cahaya dan flux
satuan intensitas cahaya adalah candela (cd)
satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran dengan radius 1 meter, jika sumber cahayanya isotropic 1-candela ( yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan isotropic lingkaran . dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari adalah 4 , maka lingkaran dengan jari-jari 1 meter memiliki luas 4 , dan oleh karena itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1-cd adalah 41m. jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropic dengan intensitas I adalah:

Flux cahaya (lm) = 4 x intensitas cahaya (cd)

Perbedaan antara lux dan lumen adalah:lux berkenaan dengan luas areal yang mana flux menyebar 1000 lumens terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi 1 meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens yang menyebar ke 10 m2 hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux.
• Efficacy beban terpasang: merupakan iluminasi / terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang data per watt pada pencahayaan umum di dalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m2
• Perbandingan efficacy beban terpasang : merupakan perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang
• Tinggi mounting : merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja.
• Efficacy cahaya terhitung : perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per Watt
• Indeks ruang : merupakan perbandingan yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tinggi nya diantara tinggi beban kerja dengan bidang titik lampu
• Efficacy beban target : nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik dinyatakan dalam Lux/W/m2
• Factor Pemanfaatan (UF) : merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh pampu-lampu , menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektifitas pola pencahayaan

B. Definisi terkait Kelas

1. Luminer kelas 0 (berlaku hanya untuk luminer biasa)
Luminer yang proteksi terhadap kejut listriknya mengandalkan pada insulasi dasar. Ini berarti bahwa tidak ada sarana untuk hubungan bagian konduktif yang dapat terjangkau, jika ada, ke konduktor proteksi pada perkawatan magun dan instalasi, keandalan pada saat terjadi kegagalan pada insulasi dasar tergantung pada lingkungan.

Catatan 1: Luminer kelas 0 dapat mempunyai selungkup dari bahan insulasi yang merupakan bagian atau keseluruhan insulasi dasar maupun selungkup logam yang terpisah dari bagian aktif dengan sekurang-kurangnya insulasi dasar

Catatan 2 : jika luminer dengan selungkup dari bahan insulasi mempunyai kelengkapan untuk bagian internal pembumian, maka ini merupakan kelas 1.

Catatan 3 : Luminer kelas 0 dapat mempunyai bagian yang berinsulasi ganda atau berinsulasi diperkuat.

2. Luminer kelas I
Luminer dengan proteksi terhadap kejut listrik tidak hanya mengandalkan insulasi dasar saja, tetapi juga mencakup tindakan pencegahan keselamatan tambahan sedemikian sehingga sarana disediakan untuk hubungan bagian konduktif yang dapat terjangkau ke konduktor proteksi (pembumian) pada perkawatan magun dari instalasi sedemikian sehingga bagian konduktif yang dapat terjangkau tidak dapat menjadi aktif jika terjadi kegagalan insulasi dasar.

Catatan 1: untuk luminer yang dimaksudkan untuk digunakan dengan kabel senur fleksibel atau kabel, ketentuan ini mencakup konduktor proteksi sebagai bagian dari kabel senur fleksibel atau kabel

Catatan 2: Luminer kelas I dapat mempunyai bagian dengan insulasi ganda atau insulasi diperkuat.

Catatan 3: Luminer kelas I dapat mempunyai bagian yang proteksi terhadap kejut listriknya mengandalkan pada operasi tegangan ekstra rendah pengaman (SELV)

3. Luminer kelas II
Luminer dengan proteksi terhadap kejut listrik tidak hanya mengandalkan insulasi dasar saja, tetapi dilengkapi dengan tindakan keselamatan tambahan seperti insulasi ganda atau insulasi diperkuat, dan tidak terdapat kelengkapan untuk pembumian proteksi atau keandalan terhadap kondisi instalasi.

Catatan 1. Luminer tersebut dapat merupakan salah satu dari jenis berikut:
a) Luminer yang mempunyai selungkup dari bahan insulasi yang awet dan kontinyu yang menutupi semua bagian logam kecuali bagian kecil seperti pelat nama, sekrup dan paku keling yang terpisah dari bagian aktif oleh insulasi paling sedikit sama dengan insulasi diperkuat. Luminer demikian disebut luminer terselungkup insulasi kelas II.
b) Luminer yang mempunyai selungkup logam yang kontinyu, dengan insulasi ganda didalamnya, kecuali untuk bagian yang menggunakan insulasi diperkuat karena penerapan insulasi ganda ternyata tidak dapat di praktekkan. Luminer demikian disebut luminer terselungkup logam kelas II.
c) Luminer yang merupakan kombinasi jenis a) dan b) diatas.
Catatan 2. Selungkup luminer terselungkup insulasi kelas II dapat merupakan bagian atau keseluruhan insulasi tambahan atau insulasi diperkuat.
Catatan 3. Jika dilengkapi dengan pembumian untuk membantu pengasutan, tetapi tidak dihubungkan pada bagian logam yang dapat terjangkau, luminer masih dapat dikelompokkan sebagai kelas II. Bagian logam yang dapat terjangkau sesuai dengan spesifikasi lampu IEC/SNI yang sesuai dan bagian logam lain yang biasanya tidak dibumikan dan biasanya tidak dapat terjangkau selama penggunaan normal tidak dianggap sebagai bagian konduktif yang dapat menyebabkan kejut listrik kecuali pengujian pada lapiran A memperlihatkan nya sebagai bagian aktif.
Catatan 4. Jika luminer dengan insulasi ganda dan/atau insulasi diperkuat keseluruhannya mempunyai terminal pembumian atau kontak pembumian, hal ini adalah konstruksi kelas I. Namun luminer kelas II. Magun yang dimaksudkan sebagai lingkar hubung (looping-in) dapat mempunyai terminal untuk mempertahankan kontinuitas listrik dari konduktor pembumian yang tidak terhubung dalam luminer, asalkan terminal diinsulasi terhadap bagian logam yang dapat terjangkau dengan insulasi kelas II.
Catatan 5. Luminer kelas II dapat mempunyai bagian yang proteksi terhadap kejut listriknya mengandalkan pada operasi dengan tegangan ekstra rendah pengaman (SELV)

4. Luminer kelas III
Luminer yang proteksi terhadap kejut listriknya mengandalkan pada suplai tegangan ekstra rendah pengaman (SELV) dan yang tegangan yang lebih tinggi dari SELV tidak dibangkitkan

Catatan : luminer kelas III sebaiknya tidak dilengkapi dengan sarana pembumian proteksi.

III. Luminer

A. Luminer mempunyai satu atau lebih lampu
Dalam satu luminer bisa menggunakan satu atau lebih lampu, yang mana lampu itu sendiri banyak jenisnya , tergantung produsen akan menggunakan jenis lampu apa yang akan di inginkan dan sesuai dengan kebutuhan.
Jenis lampu yang biasa digunakan antara lain:
1. Lampu pijar (incandescent lamp)
2. Lampu Fluorescent
3. Lampu CFL
4. Lampu Halogen
5. Lampu LED
Sedangkan pemilihan lampu antara lain dipengaruhi oleh hal hal sebagai berikut:
a) Tingkat pencahayaan yang dibutuhkan atau di persyaratkan
b) Persyaratan efek warna (color rendering)
c) Pertimbangan struktur dan ruang (space)
d) Persyaratan khusus misalnya bayangan (highlight)
e) Biaya awal dan biaya operasional

Tingkat kepentingan dari faktor-faktor diatas bervariasi sesuai dengan fungsi ruangan. Misalnya:
Faktor a) dan e) sangat penting diperhatikan dalam merancang sistem tata cahaya pada ruangan yang sangat luas dan membutuhkan tingkat pencahayaan yang tinggi. Dalam hal ini lampu jenis pelepasan listrik lebih tepat digunakan.
Faktor b) dan d) merupakan hal yang penting untuk daerah display seperti etalase, ruang resepsionis atau museum, dimana fleksibilitas dan penekanan pada lokasi tertentu,kilauan dan suasana santai dan menyenangkan sangat diutamakan. Lampu jenis pijar merupakan pilihan yang tepat untuk keperluan ini.
Sedangkan untuk bangunan industry dan komersial, pemilihan jenis pencahayaan dapat dikelompokkan menjadi:
a) Pencahayaan umum (general overhead)
b) Pencahayaan setempat (localized overhead)
c) Pencahayaan gabungan (local and general)
Sistem a) pencahayaan umum sudah jelas.
Sistem b) terutama di aplikasikan di pabrik, dimana terdapat barisan meja kerja, barisan luminer lampu TL (fluorescent) dipasang di atas setiap barisan meja. Cahaya limpasan (spill light) dari barisan luminer dan cahaya pantulan pada umumnya sudah cukup untuk keperluan pergerakan didalam ruangan.
Sistem c).dapat diterapkan pada tempat yang memerlukan tingkat pencahayaan tinggi, 1000 lux atau lebih.
Selain melihat kualitas konstruksi yang meliputi kemudahan dalam pemeliharaan , pemilihan Luminer akan bergantung pada bentuk distribusi cahaya yang diinginkan dan persyaratan ada. Misalnya untuk bangunan industry dan komersial, jika tidak ada persyaratan khusus luminer, selain harus dapat memberikan tingkat pencahayaan pada bidang horizontal sesuai dengan standar, juga memberikan tingkat pencahayaan yang cukup memadai pada bidang vertical.
B. Armature /rumah lampu
Fitur utama dari luminer adalah kekuatan dari “housing” / armature atau rumah lampunya . untuk itu penulis mencoba untuk menjelaskan tentang armature tersebut
Armatur adalah: rumah lampu yang digunakan untuk mengendalikan dan mendistribusikan cahaya yang dipancarkan oleh lampu yang dipasang di dalamnya. Dilengkapi dengan peralatan untuk melindungi lampu dan peralatan pengendali listrik. Armature ini sering diartikan sebagai penutup lampu.
Armature sangat mempengaruhi tingkat penyebaran cahaya dari suatu peralatan penerangan itu sendiri .
Armature diklasifikasikan berdasarkan 5 katagori yaitu berdasarkan:
1. Sifat penerangan
Armature diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Armature Penerangan langsung
Jenis armature ini menyebabkan pemancaran cahaya secara langsung dan efisiensi.penerangan yang baik.
Cahaya yang dipancarkan keseluruh bidang meskipun menimbulkan baying-bayang yang tajam.
Jenis armature ini digunakan pada ruangan-ruangan yang tinggi, misalnya di bengkel dan pabrik. Dan untuk penerangan luar.
b) Armature penerangan sebagian besar langsung
Jenis armature ini. Pemancarannya tidak seperti armature penerangan langsung.
Sejumlah kecil cahaya dipancarkan ke atas, sehingga efisiensi penerangan tidak sebaik armature penerangan langsung tapi efisiensi nya dapat dikatakan cukup baik.
Jenis armature ini digunakan di gedung-gedung ibadat, untuk tangga didalam rumah, gang dan sebagainya.
c) Armature penerangan Difus
Jenis armature ini, sebagian besar cahaya di arahkan ke dinding dan langit-langit sehingga efisiensi penerangannya lebih rendah dibanding jenis armature penerangan langsung dan penerangan sebagian besar langsung.
Cahaya ini membentuk baying-bayang dan kilau nya banyak berkurang
Jenis armature ini digunakan di ruangan-ruangan sekolah,di ruangan-ruangan kantor dan ditempat-tempat kerja.
d) Armature penerangan sebagian tak langsung
Jenis armature ini sebagian besar dari cahaya diarahkan ke atas dan pembentukan baying-bayang dan kilaunya hanya sedikit, oleh karena itu langit-langit dan dinding-dinding rumah harus diberi warna terang.
Jenis armature ini digunakan pada rumah-rumah sakit, ruangan baca, toko-toko dan di kamar tamu.
e) Armature penerangan tak langsung
Jenis armature ini cahaya dipantulkan oleh langit-langit dan dinding-dinding , sehingga baying-bayang hampir tidak tampak sama sekali.
Jenis armature ini digunakan di ruangan –ruangan untuk membaca , menulis dan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan halus lainnya.
2. Konstruksi
Armature diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Armature biasa
Jenis armature ini biasa digunakan pada instalasi penerangan pada umumnya
b. Armature kedap tetesan air
Jenis armature ini digunakan untuk daerah-daerah penerangan yang sering terkena tetesan air.
Armature ini melindungi peralatan penerangan dari gangguan yang mungkin diakibatkan oleh tetesan air.
c. Armature kedap air
Jenis armature ini digunakan pada instalasi penerangan jalan. Karena sifatnya yang kedap terhadap air, sehingga air tidak akan masuk dan tidak mengenai peralatan penerangan didalamnya dan gangguan dapat dicegah.
d. Armature kedap letupan debu
Jenis armature ini di desain agar kedap akan letupan debu atau benda di sekitarnya yang berpotensi menimbulkan gangguan.
e. Armature kedap letupan gas
Jenis armature ini mengisolasi peralatan penerangan didalamnya,dari bahaya letupan gas disekitarnya.
3. Penggunaan
Armature diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Armature penerangan dalam
Jenis armature ini digunakan untuk keperluan penerangan didalam ruangan atau tempat-tempat tertentu
2) Armature penerangan luar
Jenis armature ini digunakan untuk keperluan penerangan diluar ruangan dan keperluan pencahayaan yang cukup lua/ besar
3) Armature penerangan industry
Jenis armature ini biasa digunakan di industry-industri
4) Armature penerangan dekorasi
Jenis armature ini digunakan untuk penerangan dekorasi
5) Armature penerangan di tanam pada dinding/ langit-langit
Jenis armature ini dipasang pada dinding/langit-langit dengan cara ditanam, dimana arah cahayanya ditujukan ke titik tertentu
6) Armature penerangan tidak ditanam.
Jenis armature ini dipasang pada dinding/ langit-langit tanpa ditanam. Arah cahayanya dapat diatur dan ditujukan ke titik tertentu.
Jenis armature ini berguna sebagai penerangan etalase dan keperluan untuk lampu-lampu cermin
4. Bentuk
Armature diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Armature balon
Jenis armature ini berbentuk bulat atau lebih mirip seperti balon
2. Armature pinggan
3. Armature pancaran lebar
Jenis armature ini digunakan untuk penerangan umum dalam bengkel-bengkel
4. Armature pancaran terbatas
Jenis armature ini digunakan untuk penerangan setempat, misalnya mesin perkakas
5. Armature kandil
6. Armature palung
Jenis armature ini untuk penerangan industry dengan lampu bentuk tabung.
5. Cara pemasangan
Armature diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Armature langit-langit / dinding
Jenis armature ini dipasang pada langit-langit/ dinding , berguna sebagai penerangan etalase dan keperluan untuk lampu-lampu cermin
2. Armature gantung
Jenis armature ini berbentuk gelang dan digantung pada ketinggian tertentu
Jenis armature ini digunakan pada rumah-rumah sakit
3. Armature berdiri
4. Armature gantung memakai pipa
5. Armature gantung memakai kabel

C. Hubungan Suplai dan perkawatan eksternal lain
Luminer harus dilengkapi dengan salah satu dari sarana hubungan ke suplai berikut:
Luminer Magun
Terminal; tusuk kontak untuk pasangan kotak kontak; kawat penghubung; kabel fleksibel atau kabel senur yang tidak dapat dilepas; adaptor untuk pemasangan pada rel suplai; saluran masuk peranti.

Luminer portabel
Kabel fleksibel atau kabel senur yang tidak dapat dilepas; dengan tusuk kontak; saluran masuk peranti

Luminer dipasang pada rel
Adaptor atau konektor

Semi luminer
Ulir Edison atau kaki lampubayonet

Luminer portabel yang dimaksudkan untuk pemasangan di dinding dan dilengkapi kotak sambungan dan penjepit kabel senur dapat diserahkan tanpa kabel fleksibel atau kabel senur yang tidak dapat dilepas, jika petunjuk untuk pemasangan tercakup dalam luminer.

Luminer yang dinyatakan oleh pabrikan sesuai untuk digunakan untuk pasangan luar tidak boleh mempunyai perkawatan eksternal berinsulasi PVC

Kabel fleksibel atau kabel senur yang digunakan sebagai sarana hubungan ke suplai, jika disuplai oleh pabrikan luminer, harus paling sedikit sama sifat mekanis dan listriknya dengan yang ditentukan dalam IEC 60227 dan IEC 60245, dan harus mampu menahan, tanpa rusak, suhu tertinggi yang dapat mengenainya pada penggunaan normal.
Kabel fleksibel atau kabel senur yang tidak dapat di lepas
Untuk memberikan kuat mekanis yang memadai, luas penampang nominal konduktor tidak boleh kurang dari:
• 0,75 mm2 untuk luminer biasa
• 1,0 mm2 untuk luminer lain
Jika luminer dilengkapi dengan kotak kontak 10/16A, luas penampang konduktor fleksibel nominal harus paling sedikit 1,5 mm2 .
Proteksi terhadap kejut listrik
Luminer harus dikonstruksi sedemikian sehingga bagian aktifnya tidak dapatterjangkau luminer jika telah terpasang dan dikawati seperti dalampenggunaan normal, dan jika dibuka bila diperlukan untuk mengganti lampu atau pengasut (yang dapat diganti), bahkan jika operasi tidak dapat dilakukan dengan tangan. Bagian berinsulasi dasar tidak boleh digunakan pada permukaan bagian luar luminer tanpa proteksi yang sesuai terhadap kontak yang tidak disengaja.
D. Klasifikasi Luminer:
1. Klasifikasi berdasarkan jenis proteksi terhadap kejut listrik
Luminer harus di klasifikasikan berdasarka jenis proteksi terhadap kejut listrik yang diberikan, seperti kelas 0, kelas I, kelas II dan kelas III.

Luminer harus mempunyai hanya satu klasifikasi.misalnya, untuk luminer dengan transformator tegangan ekstra rendah terpadu dengan kelengkapan pembumian, luminer harus diklasifikasikan sebagai kelas I dan bagian luminer tidak boleh diklasifikasikan sebagai kelas III walaupun kompartemen lampu terpisah oleh penghalang dari kompartemen transformator

Semi luminer harus memenuhi semua persyaratan yang relevan untuk luminer kelas II tanpa dilengkapi dengan lambing kelas II.

Kecuali bila luminer telah dirancang khusus untuk digunakan dengan semi luminer, pabrikan luminer tidak bertanggung jawab untuk kesesuaian lanjutan dengan IEC 60598 pada situasi jika pengguna telah mengganti jenis lampu yang ditentukan dengan semiluminer. Pabrikan semiluminer bertanggung jawabuntuk member informasi yang berkaitan dengan pembatasan penggunaan.

Catatan: lambang kelas II ditiadakan untuk mencegah lambing diterapkan untuk luminer lengkap tempat semiluminer digunakan.

2. Klasifikasi berdasarkan tingkat proteksi terhadap masuknya debu, benda padat dan uap air
Luminer harus diklasifikasikan sesuai dengan sistem klasifikasi “ nomor IP” yang diuraikan dalam IEC 60529
Lambang untuk tingkat proteksi diberikan dalam penandaan

Catatan : nomor IP adalah penandaan utama pada luminer tetapi lambang boleh digunakan sebagai tambahan pada nomor IP jika dikehendaki.

Selungkup luminer harus memberikan tingkat proteksi terhadap masuknya debu, benda padat dan uap air sesuai dengan klasifikasi luminer dan nomor IP yang ditandakan pada luminer.

Penjelasan nomor IP untuk tingkat proteksi.
Jenis proteksi yang dicakup dalam klasifikasi adalah sebagai berikut:
a) Proteksi untuk manumur terhadap kontak dengan atau mendekati bagian aktif dan terhadap kontak dengan bagian bergerak (selain sumbu berputar dengan halus dan yang sejenis) di dalam selungkup dan proteksi perlengkapan terhadap masuknya benda asing padat.
b) Proteksi perlengkapan di dalam selungkup terhadap masuknya air yang merusak.

Kode penandaan untuk menunjukkan tingkat proteksi terdiri dari huruf karakteristik IP diikuti dengan dua angka (“angka karakteristik”) yang menunjukkan kesesuaian dengan kondisi yang dinyatakan secara berturut turut dalam tabel J1 dan J2. Angka pertama menunjukkan tingkat proteksi yang diuraikan pada butir a) diatas dan angka kedua tingkat proteksi yang di uraikan pada b) di atas.

Tabel J1. Tingkat proteksi ditunjukkan dengan angka karakteristik pertama.
Angka karakteristik pertama
Tingkat proteksi

Uraian singkat
Rincian singkat dari benda yang “tidak boleh masuk” kedalam selungkup
0
Tidak di proteksi
Tanpa proteksi khusus
1
Diproteksi terhadap benda padat lebih besar dari 50 mm
permukaan yang luas darri bodi, misalnya tangan (tetapi tidak ada proteksi terhadap akses yang disengaja). Benda padat melebihi diameter 50 mm
2
Di proteksi terhadap benda padat lebih besar dari 12 mm
Jari atau benda sejenis yang panjangnya tidak melebihi 80 mm. Benda padat melebihi diameter 12 mm
3
Di proteksi terhadap benda padat lebih besar dari 2,5 mm
Perkakas, kawat dsb nya, dengan diameter atau tebal lebih besar dari 2,5 mm. Benda padat melebihi diameter 2,5 mm
4
Di proteksi terhadap benda padat lebih besar dari 1,0 mm
Kawat atau bilah dengan tebal lebih besar dari 1,0 mm. benda padat melebihi diameter 1,0
5
Di proteksi terhadap debu
Masuknya debu tidak di cegah sepenuhnya tetapi debu tidak masuk dalam jumlah yang cukup untuk dapat mengganggu operasi yang memuaskan dari perlengkapan
6
Kedap debu
Debu tidak dapat masuk

Tabel J2. Tingkat proteksi ditunjukkan dengan angka karakteristik kedua.

Angka karakteristik kedua
Tingkat proteksi

Uraian singkat
Rincian jenis proteksi yang diberikan selungkup
0
Tidak diproteksi
Tanpa proteksi khusus
1
Proteksi terhadap tetesan air
Air menetes (tetesan jatuh vertical) tidak boleh mengakibatkan efek yang merusak
2
Proteksi terhadap tetesan air jika dimiringkan hingga 15 °
Air menetes vertical tidak boleh mengakibatkan efek yang merusak jika selungkup dimirinkan pada setiap sudut sampai dengan 15 ° terhadap posisi normal.
3
Proteksi terhadap semprotan air
Air jatuh sebagai semprotan dengan sudut sampai dengan 60 °terhadap vertical tidak boleh mengakibatkan efek yang merusak
4
Proteksi terhadap semprotan keras air
Air yang disemprotkan ke selungkup dari semua arah tidak boleh mengakibatkan efek yang merusak
5
Proteksi terhadap semburan air
Air yang disemburkan dengan nozel ke selungkup dari semua arah tidak boleh mengakibatkan efek yang merusak
6
Proteksi terhadap laut bergelombang
Air dari laut yang bergelombang atau air yang disemburkan dengan sembura yang kuat tidak boleh masuk selungkup dengan jumlah yang merusak
7
Proteksi terhadap efek pencelupan
Tidak dimungkinkan masuknya air dalam jumlah yang merusak jika selungkup dicelupkan ke dalam air dengan kondisi tekanan dan waktu yang ditentukan
8
Proteksi terhadap perendaman
Perlengkapan yang sesuai untuk perendaman dalam air pada kondisi yang harus ditentukan oleh pabrikan.
CATATAN : biasanya, hal ini berartibahwa perlengkapan dikedap rapat. Walaupun demikian dengan jenis perlengkapan tertentu dapat berarti bahwa air dapat masuk tetapi hanya dengan cara tertentu sehingga tidak menghasilkan efek yang merusak
Teknik pembersihan oleh spesialis tidak dicakup dalam pertingkat IP. Pabrikan direkomendasikan untuk memberikan informasi yang sesuai mengenai pembersihan, bila diperlukan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi yang tercantum dalam IEC 60529 untuk teknik pembersihan oleh spesialis.

3. Klasifikasi berdasarkan bahan permukaan penyangga yang dirancang untuk luminer
Luminer harus di klasifikasikan berdasarkan apakah:
• Hanya sesuai untuk pemasangan pada permukaan yang tidak mudah terbakar;
• Sesuai untuk pemasangan langsung pada permukaan yang biasanya mudah terbakar;
• Sesuai untuk pemasangan langsung dalam/pada permukaan yang biasanya mudah terbakar jika bahan insulasi panas dapat menutupi luminer
Catatan. Permukaan yang siap terbakar tidak sesuai untuk pemasangan luminer secara langsung. Persyaratan untuk luminer yang diklasifikasikan sesuai untuk pemasangan langsung pada permukaan yang biasanya mudah terbakar dengan atau tanpa penutup dari bahan insulasi, atau untuk pemasangan langsung hanya pada permukaan yang tidak mudah terbakar diberikan dalam :
• bagian penandaan nya,
• bagian konstruksi nya, dan
• untuk pengujian yang terkait dalam uji daya tahan dan uji termal.
• Serta ketentuan untuk selungkup tahan aliran angin.
• Penjelasan untuk penandaan F luminer

4. Klasifikasi berdasarkan keadaan penggunaan
Luminer harus diklasifikasikan berdasarkan apakah luminer dimaksudkan untuk penggunaan normal atau untuk pelayanan kasar
Klasifikasi
Lambang
Luminer untuk penggunaan normal
Tanpa lambang
Luminer tahan kasar
Lihat pada lambang

IIII. Perkembangan Sumber Cahaya

A. Persyaratan umum Pencahayaan
1. Pencahayaan Buatan
Pencahayaan buatan harus memenuhi:
1. Tingkat pencahayaan minimal yang di rekomendasikan tidak boleh kurang dari tingkat pencahayaan pada table.1.
2. Daya listrik maksimum per meter persegi tidak boleh melebihi nilai sebagaimana tercantum pada table.2, kecuali:
3. Penggunaan energy yang sehemat mungkin dengan mengurangi daya terpasang, melalui :

Table.1 Tingkat pencahayaan rata-rata, renderansi dan temperature warna yang direkomendasikan

Fungsi ruangan
Tingkat pencahayaan (Lux)
Kelompok renderasi warna
Temperature warna

Warm white < 3300 K
Cool white 3300K – 5300 K
Daylight > 5300 K
Rumah tinggal:
Teras
60
1 atau 2
?
?

Ruang Tamu
120 – 150
1 atau 2

?

Ruang Makan
120 – 250
1 atau 2
?

Ruang kerja
120 – 250
1

?
?
Kamar tidur
120 – 250
1 atau 2
?
?

Kamar mand
250
1 atau 2

?
?
Dapur
250
1 atau 2
?
?

Garasi
60
3 atau 4

?
?
Perkantoran :
Ruang Direktur
350
1 atau 2

?
?
Ruang kerja
350
1 atau 2

?
?
Ruang komputer
350
1 atau 2

?
?
Ruang rapat
300
1
?
?

Ruang gambar
750
1 atau 2

?
?
Gudang arsip
150
1 atau 2

?
?
Ruang arsip aktif
300
1 atau 2

?
?
Lembaga pendidikan :
Ruang kelas
250
1 atau 2

?
?
Perpustakaan
300
1 atau 2

?
?
Laboratorium
500
1

?
?
Ruang gambar
750
1

?
?
Kantin
200
1
?
?

Hotel dan Restauran :
Lobi , kantor
100
1
?
?

Ruang serba guna
200
1
?
?

Ruang makan
250
1
?
?

Kafetaria
200
1
?
?

Kamar tidur
150
1 atau 2
?

Dapur
300
1
?
?

Rumah sakit/ Balai Pengobatan
Ruang rawat inap
250
1 atau 2

?
?
Ruang operasi, ruang bersalin
300
1

?
?
Laboratorium
500
1 atau 2

?
?
Ruang rekreasi dan rehabilitasi
250
1
?
?

Pertokoan / Ruang pamer
Ruang pamer dg obyek berukuran besar (misalnya mobil)
500
1
?
?
?
Toko kue dan makanan
250
1
?
?

Toko bunga
250
1

?

Toko buku dan alat tulis/gambar
300
1
?
?
?
Toko perhiasan , arloji
300
1
?
?

Toko barang kulit dan sepatu
500
1
?
?

Toko pakaian
500
1
?
?

Pasar swalayan
500
1 atau 2
?
?

Toko mainan
500
1
?
?

Toko alat listrik (TV, Radio/tape, mesin cuci dll)
250
1 atau 2
?
?
?
Toko alat musik dan olahraga
250
11
?
?
?
Industry (umum):
Gudang
100
3

?
?
Pekerjaan kasar
100 – 200
2 atau 3

?
?
Pekerjaan menengah
200 – 500
1 atau 2

?
?
Pekerjaan halus
500 – 1000
1

?
?
Pekerjaan amat halus
1000 – 2000
1

?
?
Pemeriksaan warna
750
1

?
?
Rumah ibadah:
Masjid
200
1 atau 2

?

Gereja
200
1 atau 2

?

Vihara
200
1 atau 2

?

Table.2. Daya Listrik maksimum untuk pencahayaan

Lokasi
Daya Pencahayaan maksimum (W/m2) (termasuk rugi-rugi ballast)
Ruang kantor
15
Auditorium
25
Pasar Swalayan
20
Hotel :
Kamar tamu
17
Daerah umum
20
Rumah sakit
Ruang pasien
15
Gudang
5
Kafetaria
10
Garasi
2
Restauran
25
Lobi
10
Tangga
10
Ruang parkir
5
Ruang perkumpulan
20
Industry
20
Pintu masuk dengan kanopi :
Lalu lintas sibuk seperti hotel, banfara, teater
30
Lalu lintas sedang seperti rumah sakit, kantor dan sekolah
15
Jalan dan lapangan :
Tempat penimbunan atau tempat kerja
2,0
Tempat untuk santai seperti taman, tempat rekreasi dan tempat piknik
1,0
Jalan untuk kendaraan dan pejalan kaki
1,5
Tempat parkir
2,0

2. Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami siang hari harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Cahaya alami siang hari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya;
b) Dalam pemanfaatan cahaya alami , masuknya radiasi matahari langsung ke dalambangunan harus dibuat seminimal mungkin. Cahaya langit harus di utamakan dari pada cahaya matahari langsung
c) Pencahayaan alami siang hari dalam bangunan gedung harus memenuhi ketentuan SNI 03-2396-1991 “ Tata cara penerangan pencahayaan alami siang hari untuk rumah dan gedung”
B. Kualitas warna cahaya
Kualitas warna cahaya dibedakan menjadi:
1. Warna cahaya lampu (Correlated Colour Temperatue = CCT).
Warna cahaya lampu tidak merupakan indikasi tentang efeknya terhadap warna obyek, tetapi lebih kepada member suasana.
Warna cahaya lampu dikelompokkan menjadi:
a). Warna putih kekuning-kuningan (warm-white) kelompok 1 ( < 3300K)
b). Warna putih netral ( cool white ), kelompok 2 (3300K – 5300 K)
c). Warna putih (daylight), kelompok 3 ( > 5300 K)
pemilihan warna lampu bergantung pada tingkat iluminasi yang diperlukan agar diperoleh pencahayaan yang nyaman. Makin tinggi tingkat iluminasi yang diperlukan, maka warna lampu yang digunakan adalah jenis lampu dengan CCT sekitar > 5000K (daylight) sehingga tercipta pencahayaan yang nyaman. Sedangkan untuk kebutuhan tingkat iluminasi yang tidak terlalu tinggi, maka warna lampu yang digunakan < 3300K (warm white)
2. Rendrasi warna.
Efek suatu lampu kepada warna obyek akan berbeda-beda. Lampu diklasifikasikan dalam kelompok renderasi warna yang dinyatakan dengan Ra indeks sebagai berikut:
a). efek warna kelompok 1 : Ra indeks = 80 – 100 %
b). efek warna kelompok 2 : Ra indeks = 60 – 80 %
c). efek warna kelompok 3 : Ra indeks = 40 – 60 %
d). efek warna kelompok 4 : Ra indeks < 40 %

C. Bagian yang dirancang untuk mendistribusikan cahaya
Cahaya hanya merupakan satu bagian dari berbagai jenis gelombang elektromagnetik yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dibedakan dari energy cahaya lainnya dalam spectrum elektromagnetisnya. Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
• Pijar, benda padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan dipanaskan sampai suhu tertentu. Intensitas meningkat dan penampilan menjadi semakin putih jika suhu naik.
• Muatan listrik, jika arus listrik dilewatkan melalui gas, maka atom dan molekulnya akan memancarkan radiasi, dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada.
• Electro luminescence , cahaya dihasilkan bila arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor
• Photo luminescence, radiasi pada salah satu panjang gelombang diserap biasanya oleh suatu padatan dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang . bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat, maka radiasi tersebut disebut fluorescent phorphorescence.
Cahaya Nampak, seperti yang dapat dilihat pada spectrum elektromagnetik . gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.
Spektrum cahaya

Tidak semua cahaya dapat dilihat oleh mata manusia , hanya dalam spectrum tertentu saja cahaya dapat dilihat. Spectrum ini ada pada panjang gelombang antara 380 hingga 700 nm
• Suhu warna
Suhu warna dinyatakan dalam skala Kelvin (K) adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama warna oranye, kemudian warna kuning, dan seterusnya sehingga menjadi “putih panas”. Sewaktu-waktu selama pemanasan ,kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin ( Celcius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna.
Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”.
Untuk lampu Neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna. Di Industri “suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian.suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan tampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”. Umumnya makin rendah suhu makin hangat sumber dan sebaliknya.

• Perubahan warna
Kemampuan sumber daya merubah warna permukaan secara akurat dapat di ukur dengan baik oleh index perubahan warna. Index ini didasarkan pada ketapatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relative terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Index CIE memiliki keterbatasan , namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya.

Hukum dan Penerangan
• Hukum kuadrat terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari)
E = I / d2
Dimana :
E = Emisi cahaya
I = Intensitas cahaya
d = jarak
bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah
E1. d12 = E2. d22
Jarak di ukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya – kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaan nya seperti es.
Contoh:
Soal: Jika seseorang mengukur 10 lm/m2 dari sebuah cahaya bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Jawab: E 1m = (d2 / d1)2 x E2
= (1.0 / 0.5)2 x 10
= 40 lm/m2
V. Penutup
Dengan adanya tulisan “Pengetahuan tentang luminer”, semoga menambah wawasan bagi yang membacanya, sehingga dapat mengetahui tentang apa itu luminer, yang terkait dengan luminer, kualitas warna luminer dan persyaratan umum pencahayaan, sehingga dapat memilih penggunaan luminer sesuai dengan yang kita butuhkan, semoga bermanfaat. Aamiin YRA.

VI. Daftar Pustaka
1. SNI Wajib 0225:2011 Persyaratan Umum Instalasi Listrik( PUIL: 2011)
PUIL 2011 + Amandemen 1.(2011) edisi 2016 “ Keselamatan dan Pemasangan Instalasi Listrik voltase rendah untuk rumah tangga”

2. SNI 03-6197 : 2000 ; Konversi Energi pada sistem pencahayaan “

3. SNI 04-6973.1 – 2005 : Luminer – Bagian 1: Persyaratan umum dan pengujian

4. Rizqi dwicahyo , 2015 .Sistem Penerangan Dan Armatur . diambil dari : http://dokumen tips documents sistem-penerangan-dan-armatur ( 05 Nov 2015)

5. Ramdan sudrajat, 2012. Luminaire. Diambil dari: http://luminaire-indonesia.blogspot.co.id/2012/11/luminaire-adalah -satuan-cahaya-yang. html (05 Nov 2012)

6. HaGe, 2008. Instalasi penerangan:Teori Dasar Pencahayaan. Diambil dari: http://dunia- listrik.blogspot.co.id/2008/12/instalasi-penerangan-teori-dasar.html

38

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *